Minggu, 16 Desember 2018

PENILAIAN HOTS



PENILAIAN HOTS
1.      Higher Order Thinking Skills (HOTS)
a.       Pengertian HOTS
Menurut Haladyna dan Bloom yang dikutip oleh Adi W. Gunawan mendefinisikan kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah memahami fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan prosedur atau langkah-langkah serta melakukan analisis, sintesis, dan evaluasi. Salah satu metode dan strategi untuk mengembangakan kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah Learning and Thinking Strategies yang memiliki karakteristik: a) desain tujuan pengajaran pembelajaran yang spesifik dan strategi berpikir, b) mengajarkan refleksi diri dan evaluasi diri tentang proses berpikir, c) menggunakan peta kognitif, d) mengajarkan strategi awal dan latihan untuk tugas-tugas kompleks, e) memperkuat pemahaman dan keterampilan dalam menerapkan konsep terkait, aturan (prinsip dan prosedur), proses pengambilan keputusan, dan strategi pemecahan masalah. Item performance test yang meliputi tugas tangan, esai, jawaban singkat, tindakan membangun respon, dan portofolio sangat banyak direkomendasikan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi.[1]
Seperti yang dijelaskan Thomas dan Glenda bahwa HOTS dapat dipelajari, serta keterampilan HOTS dapat ditingkatkan dengan berlatih. Melihat fakta HOTS tersebut tentu merupakan kabar gembira bagi tenaga pendidik untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif untuk mengembangkan dan meningkatkan keterampilan HOTS peserta didik. Langkah pertama dalam mengembangkan keterampilan HOTS adalah mengenal lebih jauh tentang HOTS itu sendiri, sehingga tenaga pendidik diharapkan sering membicarakan HOTS kepada peserta didik, serta memberitahu peserta didik kapan harus menggunakan HOT.[2]
HOT oleh peserta didik melibatkan transformasi informasi dan ide. Transformasi ini terjadi ketika peserta didik menggabungkan fakta dan ide-ide kemudian mensintesis, menggeneralisasi, menjelaskan, berhipotesis atau sampai pada beberapa kesimpulan dan penafsiran. Memanipulasi informasi dan ide-ide melalui proses ini memungkinkan peserta didik untuk memecahkan masalah, mendapatkan pemahaman dan menemukan makna baru. Ketika peserta didik terlibat dalam pengembangan pengetahuan, unsur ketidakpastian diperkenalkan ke dalam proses pembelajaran dan hasil tidak selalu dapat ditebak, dengan kata lain, tenaga pendidik tidak yakin apa yang akan peserta didik hasilkan. Dalam membantu peserta didik membangun pengetahuan mereka sendiri, tugas instruksional utama tenaga pendidik adalah untuk menciptakan kegiatan atau lingkungan yang memungkinkan mereka mendapat kesempatan untuk terlibat dalam HOTS.[3]
Tetapi kenyataan yang ada menunjukkan bahwa tenaga pendidik masih kesulitan dalam mengidentifikasi serta membuat soal yang dapat mengukur HOTS peserta didik. Implementasi HOTS pada konteks asesmen, secara sederhana bukan hanya meminimalisir kemampuan mengingat kembali informasi (recall), tetapi lebih mengukur kemampuan: 1) transfer satu konsep ke konsep lainnya, 2) memproses dan menerapkan informasi, 3) mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda- beda, 4) menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, dan 5) menelaah ide dan informasi secara kritis. Meskipun demikian, soal-soal yang berbasis HOTS tidak berarti soal yang lebih sulit daripada soal recall. [4]
b.      Level HOTS
Salah satu cara yang dapat digunakan dalam identifikasi dan pembuatan soal berbasis HOTS adalah dengan beracuan pada Taksonomi Bloom yang sudah direvisi untuk ranah kognitif. Ini meliputi 6 level berpikir dari yang paling dasar sampai yang paling abstrak, yaitu mengingat (remembering), memahami (understanding), menggunakan (applying), menganalisa (analysing), mengevaluasi (evaluating), dan membuat (creating), dimana yang dinamakan HOTS adalah 3 level terakhir, yaitu analysing, evaluating, dan creating.[5]
Pada level remembering, soal yang dibuat hanya meminta peserta didik berpikir untuk mengambil informasi dalam satu langkah dan mengkomunikasikannya baik lisan maupun tertulis secara apa adanya. Untuk level understanding, peserta didik sudah diminta untuk menjelaskannya menggunakan pemikiran mereka sendiri, disamping pengambilan informasi yang juga satu langkah (simple). Selanjutnya level applying, yaitu soal yang menuntut peserta didik menggunakan rumus yang sudah dipelajari untuk “langsung” digunakan tanpa modifikasi. Diatasnya adalah level analysing, yaitu level yang memungkinkan siswa untuk tidak sekedar menggunakan rumus yang ada dalam menyelesaikan permasalahan tetapi menuntut mereka melakukan pencarian informasi yang lain agar bisa menemukan solusinya, maksudnya adalah proses berpikir yang diperlukan lebih dari satu langkah. Level setelahnya yaitu evaluating, level yang menuntut peserta didik memberikan penilaian terhadap suatu kondisi permasalahan yang diberikan, dimana peserta didik menentukan apakah itu benar atau salah, ya atau tidak, serta memberikan argumennya atas pemilihan jawaban tersebut. Level tertinggi adalah creating, yaitu level yang mengharapkan peserta didik membuat sesuatu hal atau rumus baru, yang belum pernah dijelaskan secara gamblang oleh tenaga pendidik.[6]



[1] Adi W. Gunawan, Genius Learning Strategy, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2006), hlm. 117.
[2] Thomas A. dan Glenda T, Higher Order Thinking: Thinking Out Loud. (http://www.cdl.org/resource-library/articles/highorderthinking.php). Diakses tanggal 18 Maret 2016, hlm. 1.
[3] Department of Education, A guide to Productive Pedagogies: Classroom reflection manual (The State of Queensland: Brisbane Albert St, 2002), hlm. 1.
[4] T. Thompson, “Mathematics Teacher’s Interpretation of Higher-Order Thinking in Bloom’s Taxonomy”, International Electronic Journal of Mathematics Education, (2008), hlm. 98.
[5] Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, Penyusunan Soal…, hlm. 1.
[6] Ibid., hlm. 97.

PEMBELAJARAN 4C



PEMBELAJARAN 4C
Keterampilan abad ke-21 atau diistilahkan dengan 4C (Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, dan Creativity and Innovation) merupakan kemampuan sesungguhnya ingin dituju dengan Kurikulum 2013.
Berikut penjelasan 4C.
1.        Communication (komunikasi)
Komunikasi adalah sebuah kegiatan mentransfer sebuah informasi baik secara lisan maupun tulisan. Namun, tidak semua orang mampu melakukan komunikasi dengan baik. Terkadang ada orang yang mampu menyampaikan semua informasi secara lisan tetapi tidak secara tulisan ataupun sebaliknya.
Manusia merupakan mahluk sosial yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Oleh karena itu, komunikasi merupakan salah satu hal yang terpenting dalam peradaban manusia. Tujuan utama komunikasi adalah mengirimkan pesan melalui media yang dipilih agar dapat dimengerti oleh penerima pesan. Komunikasi efektif tejadi apabila sesuatu (pesan) yang diberitahukan komunikator dapat diterima dengan baik atau sama oleh komunikan, sehingga tidak terjadi salah persepsi.
supaya komunikasi antar manusia terjalin secara efektif dibutuhkan teknik berkomunikasi yang tepat.  Teknik komunikasi adalah suatu cara yang digunakan dalam menyampaikan informasi dari komunikator ke komunikan dengan media tertentu. Dengan adanya teknik ini diharapkan setiap orang dapat secara efektif melakukan komunikasi satu sama lain dan secara tepat menggunakannya. Indikator komunikasi dalam pembelajaran adalah:
ü  Memahami, mengelola, dan menciptakan komunikasi  yang ekfektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan, dan multimedia (ICT Literacy).
ü  Menggunakan kemampuan untuk mengutarakan ide-­‐ide, baik itu pada saat berdiskusi, di dalam dan di luar kelas, maupun tertuang pada tulisan.
ü  Menggunakan bahasa lisan yang sesuai konten dan konteks pembicaraan dengan lawan bicara atau yang diajak berkomunikasi.
ü  Selain itu dalam komunikasi lisan diperlukan juga sikap untuk dapat mendengarkan, dan menghargai pendapat orang lain, selain pengetahuan terkait konten dan konteks pembicaraan.
ü  Menggunakan alur pikir yang logis, terstruktur sesuai dengan kaidah yang berlaku.
ü  Dalam Abad 21 komunikasi tidak terbatas hanya pada satu bahasa, tetapi kemungkinan multi-­‐bahasa.
2.  Collaborative (kolaborasi)
Adalah kemampuan berkolaborasi atau bekerja sama, saling bersinergi, beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab; bekerja secara produktif dengan yang lain; menempatkan empati pada tempatnya; menghormati perspektif berbeda. Kolaborasi juga memiliki arti mampu menjalankan tanggung jawab pribadi dan fleksibitas secara pribadi, pada tempat kerja, dan hubungan masyarakat; menetapkan dan mencapai standar dan tujuan yang tinggi untuk diri sendiri dan orang lain; memaklumi kerancuan. Indikator kolaborasi dalam pembelajaran adalah:
ü  Memiliki kemampuan dalam kerjasama berkelompok
ü  Beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab, bekerja secara produktif dengan yang lain.
ü  Memiliki empati dan menghormati perspektif berbeda.
ü  Mampu berkompromi dengan anggota yang lain dalam kelompok demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
3. Critical thinking and Problem Solving (berpikir kritis dan pemecahan masalah).
Adalah kemampuan untuk memahami sebuah masalah yang rumit, mengkoneksikan informasi satu dengan informasi lain, sehingga akhirnya muncul berbagai perspektif, dan menemukan solusi dari suatu permasalahan. Critical thinking dimaknai juga kemampuan menalar, memahami dan membuat pilihan yang rumit; memahami interkoneksi antara sistem, menyusun, mengungkapkan, menganalisis, dan menyelesaikan masalah. Indikator berpikir kritis dalam pembelajaran adalah:
ü  Menggunakan berbagai tipe pemikiran/penalaran atau alasan, baik induktif maupun deduktif dengan tepat dan sesuai situasi.
ü  Memahami interkoneksi antara satu konsep dengan konsep yang lain dalam suatu mata pelajaran, dan keterkaitan antar konsep antara suatu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya.
ü  Melakukan penilaian dan menentukan keputusan secara efektif dalam mengolah data dan menggunakan argumen.
ü  Menguji hasil dan membangun koneksi antara informasi dan argumen.
ü  Mengolah dan menginterpretasi informasi yang diperoleh melalui simpulan awal dan mengujinya lewat analisis terbaik.
ü  Membuat solusi dari berbagai bermasalahan non-­‐rutin, baik dengan cara yang umum, maupun dengan caranya sendiri.
ü  Menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha menyelesaikan permasalahan
ü  Menyusun dan mengungkapkan, menganalisa, dan menyelesaikan suatu masalah.
4.   Creativity and Innovation (Kreativitas dan inovasi)
Adalah kemampuan untuk mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain; bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda.
Kreativitas juga didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam menciptakan penggabungan baru. Kreativitas akan sangat tergantung kepada pemikiran kreatif seseorang, yakni proses akal budi seseorang dalam menciptakan gagasan baru. Kreativitas yang bisa menghasilkan penemuan-penemuan baru (dan biasanya bernilai secara ekonomis) sering disebut sebagai inovasi.
ü  Memiliki kemampuan dalam mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-­‐gagasan baru secara lisan atau tulisan.
ü  Bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda.
ü  Mampu mengemukakan ide-­‐ide kreatif secara konseptual dan praktikal.
ü  Menggunakan konsep-­‐konsep atau pengetahuan dalam situasi baru dan berbeda, baik dalam mata pelajaran terkait, antar mata pelajaran, maupun dalam persoalan kontekstual.
ü  Menggunakan kegagalan sebagai wahana pembelajaran.
ü  Memiliki kemampuan dalam menciptakan kebaharuan berdasarkan pengetahuan awal yang dimiliki.
ü  Mampu beradaptasi dalam situasi baru dan memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan.