PENILAIAN HOTS
1.
Higher Order Thinking
Skills (HOTS)
a.
Pengertian HOTS
Menurut
Haladyna dan Bloom yang dikutip oleh Adi W. Gunawan mendefinisikan kemampuan
berpikir tingkat tinggi adalah memahami fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip,
dan prosedur atau langkah-langkah serta melakukan analisis, sintesis, dan
evaluasi. Salah satu metode dan strategi untuk mengembangakan kemampuan
berpikir tingkat tinggi adalah Learning and Thinking Strategies yang
memiliki karakteristik: a) desain tujuan pengajaran pembelajaran yang spesifik
dan strategi berpikir, b) mengajarkan refleksi diri dan evaluasi diri tentang
proses berpikir, c) menggunakan peta kognitif, d) mengajarkan strategi awal dan
latihan untuk tugas-tugas kompleks, e) memperkuat pemahaman dan keterampilan
dalam menerapkan konsep terkait, aturan (prinsip dan prosedur), proses
pengambilan keputusan, dan strategi pemecahan masalah. Item performance test
yang meliputi tugas tangan, esai, jawaban singkat, tindakan membangun respon,
dan portofolio sangat banyak direkomendasikan untuk mengukur kemampuan berpikir
tingkat tinggi.[1]
Seperti yang dijelaskan Thomas dan Glenda
bahwa HOTS dapat dipelajari, serta keterampilan HOTS dapat ditingkatkan dengan
berlatih. Melihat fakta HOTS tersebut tentu merupakan kabar gembira bagi tenaga
pendidik untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif untuk mengembangkan
dan meningkatkan keterampilan HOTS peserta didik. Langkah pertama dalam
mengembangkan keterampilan HOTS adalah mengenal lebih jauh tentang HOTS itu
sendiri, sehingga tenaga pendidik diharapkan sering membicarakan HOTS kepada
peserta didik, serta memberitahu peserta didik kapan harus menggunakan HOT.[2]
HOT oleh peserta didik melibatkan transformasi
informasi dan ide. Transformasi ini terjadi ketika peserta didik menggabungkan
fakta dan ide-ide kemudian mensintesis, menggeneralisasi, menjelaskan,
berhipotesis atau sampai pada beberapa kesimpulan dan penafsiran. Memanipulasi
informasi dan ide-ide melalui proses ini memungkinkan peserta didik untuk
memecahkan masalah, mendapatkan pemahaman dan menemukan makna baru. Ketika
peserta didik terlibat dalam pengembangan pengetahuan, unsur ketidakpastian
diperkenalkan ke dalam proses pembelajaran dan hasil tidak selalu dapat
ditebak, dengan kata lain, tenaga pendidik tidak yakin apa yang akan peserta
didik hasilkan. Dalam membantu peserta didik membangun pengetahuan mereka
sendiri, tugas instruksional utama tenaga pendidik adalah untuk menciptakan kegiatan
atau lingkungan yang memungkinkan mereka mendapat kesempatan untuk terlibat
dalam HOTS.[3]
Tetapi kenyataan yang ada menunjukkan bahwa
tenaga pendidik masih kesulitan dalam mengidentifikasi serta membuat soal yang
dapat mengukur HOTS peserta didik. Implementasi HOTS pada konteks asesmen, secara sederhana bukan hanya meminimalisir kemampuan mengingat kembali informasi
(recall), tetapi lebih
mengukur kemampuan: 1) transfer satu konsep ke konsep lainnya, 2) memproses
dan
menerapkan informasi, 3) mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-
beda, 4) menggunakan
informasi untuk menyelesaikan
masalah, dan
5) menelaah
ide dan informasi secara kritis. Meskipun
demikian, soal-soal yang
berbasis HOTS tidak berarti soal
yang lebih sulit
daripada soal recall. [4]
b. Level HOTS
Salah satu cara yang dapat digunakan dalam identifikasi
dan pembuatan soal berbasis HOTS adalah dengan beracuan pada Taksonomi Bloom
yang sudah direvisi untuk ranah kognitif. Ini meliputi 6 level berpikir dari
yang paling dasar sampai yang paling abstrak, yaitu mengingat (remembering), memahami (understanding), menggunakan (applying), menganalisa (analysing), mengevaluasi (evaluating), dan membuat (creating), dimana yang dinamakan HOTS
adalah 3 level terakhir, yaitu analysing,
evaluating, dan creating.[5]
Pada level remembering,
soal yang dibuat hanya meminta peserta didik berpikir untuk mengambil informasi
dalam satu langkah dan mengkomunikasikannya baik lisan maupun tertulis secara
apa adanya. Untuk level understanding,
peserta didik sudah diminta untuk menjelaskannya menggunakan pemikiran mereka
sendiri, disamping pengambilan informasi yang juga satu langkah (simple). Selanjutnya level applying, yaitu soal yang menuntut
peserta didik menggunakan rumus yang sudah dipelajari untuk “langsung” digunakan
tanpa modifikasi. Diatasnya adalah level analysing,
yaitu level yang memungkinkan siswa untuk tidak sekedar menggunakan rumus yang
ada dalam menyelesaikan permasalahan tetapi menuntut mereka melakukan pencarian
informasi yang lain agar bisa menemukan solusinya, maksudnya adalah proses
berpikir yang diperlukan lebih dari satu langkah. Level setelahnya yaitu evaluating, level yang menuntut peserta
didik memberikan penilaian terhadap suatu kondisi permasalahan yang diberikan,
dimana peserta didik menentukan apakah itu benar atau salah, ya atau tidak,
serta memberikan argumennya atas pemilihan jawaban tersebut. Level tertinggi
adalah creating, yaitu level yang
mengharapkan peserta didik membuat sesuatu hal atau rumus baru, yang belum
pernah dijelaskan secara gamblang oleh tenaga pendidik.[6]
[1] Adi
W. Gunawan, Genius Learning Strategy, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,
2006), hlm. 117.
[2] Thomas A. dan Glenda T, Higher Order Thinking: Thinking Out Loud. (http://www.cdl.org/resource-library/articles/highorderthinking.php). Diakses tanggal 18 Maret 2016, hlm. 1.
[3] Department of Education, A guide to Productive Pedagogies: Classroom reflection manual (The
State of Queensland: Brisbane Albert St, 2002), hlm. 1.
[4] T. Thompson, “Mathematics
Teacher’s Interpretation of Higher-Order Thinking in Bloom’s Taxonomy”, International
Electronic Journal of Mathematics Education, (2008), hlm. 98.
[5]
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, Penyusunan Soal…, hlm. 1.
[6] Ibid.,
hlm. 97.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar